Rabu, Mei 06, 2009

Diisononyl Phthalate (DINP) – Mainan dari Bahan PVC dan Kesehatan

Diisononyl Phthalate (DINP) adalah termasuk kandungan utama dalam formulasi bahan PVC untuk mainan anak-anak. Fungsi DINP adalah untuk membuat mainan tersebut lunak, fleksibel dan murah, selain juga untuk menjamin tingkat keamanan dalam penggunaannya.


  • DINP adalah zat pelunak/plasticizer PVC pilihan utama perusahaan-perusahaan pembuat mainan anak-anak di Amerika Serikat karena keefektifannya serta harganya ayng ekonomis.

  • DINP telah digunakan dalam formulasi bahan PVC untuk produk mainan anak-anak semenjak puluhan tahun yang lalu.

  • The US Consumer Product Safety Commission (Komisi Negara untuk Keamanan Produk – Amerika Serikat) telah memberi rekomendasi: “Jika DINP dalam mainan anak-anak harus digantikan, resiko yang dibawa oleh bahan penggantinya harus juga dipertimbangkan baik-baik. Bahan plastic pengganti PVC yang sifatnya lebih keras dan mudah pecah justru dapat membahayakan anak karena pecahan tersebut beresiko tertelan oleh anak. Sementara kalau plasticizer lain akan digunakan menggantikan DINP, plasticizer-plasticizer selain DINP belumlah banyak diuji dan diteliti seperti halnya DINP”.
Tinjauan-tinjauan independent tentang keamanan penggunaan DINP telah menyimpulkan bahwa bahan ini aman digunakan dalam produk mainan anak-anak.
  • The US Consumer Product Safety Commission telah menghabiskan waktu 4 tahun untuk mempelajari DINP dan telah melakukan riset orisinil untuk mempelajari berapa lama dan berapa sering sebenarnya anak-anak memasukkan mainan ke dalam mulutnya. Mereka menyimpulkan bahwa “tidak diamati adanya resiko terhadap kesehatan” dari digunakannya DINP dalam mainan anak-anak dan “tidak ada justifikasi” untuk melarang penggunaan DINP dalam mainan anak-anak.
  • Suatu tinjauan keamanan oleh Komisi Eropa, yang dilaksanakan atas perintah European Chemical Bureau, telah menemukan bahwa penggunaan DINP dalam produk sehari-hari, termasuk mainan anak-anak, “tidak menimbulkan resiko kesehatan bagi orang dewasa, balita maupun bayi-bayi yang baru dilahirkan”.
  • The National Toxicology Program (Program Toksikologi Nasional”, yang merupakan program kerja dari US National Institutes of Health, telah menyatakan “kekhawatiran yang minimum” terhadap digunakannya DINP dalam mainan anak-anak.
  • Data dari Centers for Decease Control and Prevention (Pusat-Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) menunjukkan bahwa jumlah rata-rata paparan DINP terhadap manusia nilainya jauh dibawah ambang batas yan gtelah ditentukan oleh EPA (US Environmental Protection Agency).

Tidak ada klaim yang dapat dipercaya tentang adanya efek negatif terhadap kesehatan yang disebabkan oleh paparan suatu jenis phthalate maupun campuran dari beberapa jenis phthalate.

  1. Jumlah rata-rata paparan phthalate terhadap penduduk Amerika Serikat adalah jauh nilainya dibawah ambang batas yang dianggap aman oleh Pemerintah, ketika paparan phthalate terhadap banyak orang dijumlahkan, nilainya masih juga lebih kecil dari ambang batas aman yang ditentukan Pemerintah.
  2. Tidak ada studi yang mengklaim adanya hubungan antara paparan DINP dan efeknya terhadap manusia.
  3. Efek kesehatan yang diamati pada tikus-tikus disebabkan oleh dosis phthalate yang besarnya jauh diatas jumlah yang mungkin terjadi dalam kehidupan nyata manusia sehari-hari, seperti yang pernah dihitung oleh CDC (Centers for Decease Control and Prevention).

 

Phthalate dan Kesehatan Anda

Klaim 1: Phthalate menyebabkan penyakit kanker

Pada tahun 1980-an, beberapa jenis phthalate didemonstrasikan sebagai penyebab kanker hati pada tikus, ketika tikus-tikus tersebut diberi paparan phthalate dalam dosis yang tinggi dan dalam jangka waktu yang lama.

Akan tetapi riset selanjutnya menunjukkan bahwa kanker pada tikus-tikus tersebut disebabkan oleh suatu proses biologis yang spesifik terjadi dalam tubuh tikus, akan tetapi tidak terjadi pada tubuh manusia.

Pada tahun 2000, International Agency for Research on Cancer (IARC, yang merupakan organisasi resmi di bawah WHO) telah mengumumkan bahwa DOP/DEHP, jenis phthalate yang paling banyak digunakan, tidak digolongkan sebagai zat pemicu kanker pada manusia.

Klaim 2: Phthalate menyebabkan gangguan reproduksi

Phthalat dalam dosis tinggi yang dimasukkan dalam tubuh tikus telah diketahui mengganggu system reproduksi tikus jantan. Efek ini diyakini disebabkan karena terganggunya produksi hormone testosterone.

Beberapa studi mengklaim bukti adanya hubungan antara paparan phthalate dan efek gangguan system reproduksi pada manusia. Beberapa dari studi-studi yang paling banyak dirujuk tersebut, ketika ditinjau oleh tim peneliti yang ditunjuk pihak pemerintah, ternyata memiliki banyak kelemahan dalam metodologinya sehingga studi tersebut dinyatakan tidak memiliki cukup data untuk bisa disimpulkan.

Sementara itu beberapa riset menyimpulkan bahwa efek gangguan system reproduksi yang diamati pada tikus adalah tidak relevan bagi manusia, seperti juga yang terjadi pada mekanisme terjadinya kanker pada tikus.

Studi lain menunjukkan bahwa dosis phthalate yang tinggi yang dimasukkan ke dalam tubuh marmoset (sejenis kera kecil) ternyata samasekali tidak mengganggu system reproduksinya. Studi lain menunjukkan bahwa marmoset (yang merupakan mamalia seperti manusia, sehingga system reproduksinya lebih mewakili system reproduksi manusia) ternyata tidak mudah menyerap phthalate, sementara tikus sangat mudah menyerap phthalate. Pada mamalia, phthalate dengan mudah dihancurkan dalam proses metabolisme dan dengan cepat dibuang keluar dari tubuh.


 

Sekilas tentang Phthalate

Apakah Phthalate?

Phthalate adalah sekelompok zat kimia yang dibuat dari reaksi esterifikasi antara alcohol dan phthalic anhydride. Phthalate berwujud seperti minyak, tak berwarna/bening, tanpa baud an tidak mudah menguap.

Penggunaan phthalate yang utama adalah sebagai aditif pelunak (plasticizer) bahan PVC dan telah menjadi bagian penting dari kehidupan kita sehari-hari. Penggunaan phthalate dalam peralatan medis, mainan anak-anak, berbagai bagian mobil, berbagai produk kebutuhan rumah tangga, membuat hidup kita lebih baik dan lebih aman. Penggunaan phthalate di rumah sakit dan di ruang gawat darurat khususnya, telah banyak menyelamatkan jiwa manusia. Phthalat membuat rumah kita penuh dekorasi, lebih mudah dibersihkan, lebih efisien dalam penggunaan energi serta lebih tahan lama. Produk-produk PVC lunak yangmengandung phthalate memiliki sifat-sifat yang unggul dan sangat ekonomis, karenanya fungsinya sangat sulit digantikan oleh behan-bahan dari jenis lain. Phthalate merupakan pilihan yang paling ekonomis dan tepat guna bagi konsumen.

Beberapa jenis phthalate memberikan keuntungan yang unik bagi industri perawatan kecantikan.

Selama lebih dari 50 tahun, phthalate merupakan bahan baku penting dalam industri parfum dan cat kuku. Salah satu jenis phthalate berfungsi mengikat molekul zat pembawa aroma harum dalam formulasi produk parfum dan produk-produk kecantikan pada umumnya, yang membuat aroma harumnya menjadi tahan lebih lama. Fungsi lain dari phthalate adalah sebagai aditif dalam formulasi rambu atau tanda yang ditempatkan di alam terbuka, yang membuatnya tidak mudah retak/rusak.

Banyak studi independent yang telah dilakukan, yang menyimpulkan bahwa phthalate aman digunakan dalam produk mainan anak-anak dan kosmetika.

Review tentang keselamatan kerja yang dilakukan oleh beberapa komite ilmuwan Eropa dan Amerika telah secara spesifik membolehkan penggunaan phthalate dalam produk-produk mainan anak-anak dan cat kuku. Tidak pernah ada review yang dilakukan pihak pemerintah yang menyimpulkan bahwa phthalate tidak aman untuk digunakan dalam produk sehari-hari.

Setelah lebih dari 50 tahun digunakan secara luas, tidak pernah ada bukti yang menunjukkan bahwa phthalate merugikan kesehatan manusia.

9 Sumber Kesalahfahaman tentang Bahan PVC

1. Analisa Daur Hidup – Life Cycle Analysis (LCA)

Banyak pakar sepakat bahwa untuk benar-benar memahami dampak lingkungan dari penggunaan suatu produk, seluruh daur hidup produk tersebut harus dievaluasi secara seksama. Inilah yang disebut Analisa Daur Hidup.

Efek-efek lingkungan yang diakibatkan oleh proses produksi suatu produk dengan berjalannya waktu dapat dikompensasi atau diimbangi dengan usia pakai yang panjang, manfaat yang besar dari digunakannya produk tersebut serta dampak lingkungan yang rendah atas penggunaan produk tersebut. Misalnya, untuk kasus jendela PVC, emisi yang terjadi selama proses pembuatan produk ini ternyata tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan keuntungan yang didapat selama puluhan tahun karena penggunaan jendela PVC: penghematan energi.


  • Produk-produk dari bahan PVC unggul dalam efisiensi energi, kapasitas isolasi termal, kontribusi yang rendah terhadap efek rumah kaca, kemudahan perawatan dan usia pakai yang panjang (tahan lama).
  • Hasil studi terbaru tentang daur hidup produk PVC di sektor konstruksi bangunan menyatakan bahwa dampak lingkungan dan kesehatan dari digunakannya produk PVC sama atau lebih kecil dibanding kebanyakan bahan-bahan lain.

2. Keselamatan Kerja

Pada tahun 1973, dokter-dokter di suatu pabrik VCM (vinyl chloride monomer, bahan baku utama PVC) menemukan beberapa kasus suatu jenis kanker hati yang langka yang diidap beberapa pekerja disitu. Dalam masa dua tahun sesudahnya US Occcupational Safety and Health Administration (OSHA) dan US Environmental Protection Agency (EPA) mengeluarkan regulasi untuk mengurangi paparan terhadap bahan kimia dan emisi bahan kimia ke lingkungan sekitar. Untuk memenuhi tuntutan ini industri PVC di seluruh dunia merekayasa-ulang proses produksinya.

  • Tidak ada lagi kasus terdokumentasi tentang pengidap kanker di kalangan pekerja di industri VCM dan PVC yang karirnya dimulai semenjak diresmikannya regulasi tersebut.

3. Vinyl Chloride Monomer (VCM)

EPA memperkirakan bahwa emisi VCM di industri PVC telah ditekan sebanyak lebih dari 99% semenjak tahun 1970-an. Lebih jauh lagi, tidak ditemui adanya catatan kasus dimana ada anggota masyarakat dirugikan karena paparan VCM.

4. Dioxin

PVC merupakan sumber dioxin yang sangat rendah, begitu rendahnya hingga kadar dioxin di lingkungan sekitar kita pada dasarnya tidak berubah jika semua pabrik PVC ditutup dan semua produk PVC tidak digunakan lagi di seluruh dunia. Di lain pihak justru banyak sekali manfaat penting yang didapat dari penggunaan PVC di seluruh dunia selama ini.

Akan tetapi industri PVC tetap terus menerus mengupayakan pengurangan dihasilkannya dioxin, pada saat ini proses produksi PVC hanya menghasilkan beberapa gram dioxin saja per tahun.

Sumber dioxin yang utama diantaranya kebakaran hutan, gunung meletus, pembakaran kayu di perapian, emisi kendaraan bermotor dan proses pembuatan bahan bangunan yang lain.

Menurut data dari EPA, tingkat emisi dioxin selalu menurun sepanajng 30 tahun terakhir, sementara volume produksi PVC telah meningkan menjadi tiga kali lipat pada jangka waktu yang sama.

       Menurut EPA:
    • Porsi emisi dioxin oleh industri PVC adalah sangat kecil, hanya 0.5% dari total emisi dioxin.
  • 5. Pengisian tanah (Landfill)

    Produk-produk dari bahan PVC bersifat sangat tahan terhadap kondisi korosif yang terjadi pada landfill dan tidak akan menjadi rusak atau terdegradasi dalam kondisi tersebut. Bahkan PVC seringkali digunakan untuk membuat pembungkus dan penutup bahan-bahan yang ditimbun tersebut karena kestabilannya dan ketahanannya terhadap bahan-bahan yang korosif.

    • Bahan PVC yang berakhir di landfill hanya sekitar 0.6% dari berat total limbah tersebut.
    • Sekitar 18 juta pound limbah berbahan PVC batal dikirim ke landfill dan didaur ulang menjadi produk-produk generasi kedua.

    6. Asam Klorida (HCl)

    Asam klorida (HCl) adalah produk sampingan dari pembakaran bahan PVC. Dalam situasi kebakaran yang sesungguhnya, kandungan HCl di udara jauh lebih rendah dari batas konsentrasi yang dinyatakan berbahaya bagi manusia. Karena sifatnya yang menimbulkan iritasi dan baunya yang menyengat, HCl yang terbakar justru berfungsi sebagai zat yang memacu orang untuk menjauh dari tempat terjadinya kebakaran.

    7. Phthalate dan Aditif-Aditif yang lain

    Sifat-sifat fisik PVC menyebabkan aditif-aditif seperti stabilizer dan antioxidant dengan aman terkurung dalam struktur bahan tersebut dan tidak mudah lepas mencemari manusia dan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi yang akhir-akhir ini ramai diberitakan adalah kekhawatiran tentang paparan plasticizer dari jenis phthalate yang banyak digunakan dalam produk PVC yang lunak. Data hasil studi yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun menyimpulkan bahwa phthalate tidak menyebabkan gangguan pada kesehatan dan kesejahteraan manusia.
    • Aditif-aditif PVC telah dipelajari selama bertahun-tahun oleh para ilmuwan yang independent, badan-badan pemerintah:serta industri, dan saat ini bahan PVC telah digunakan dengan aman selama lebih dari 50 tahun.

    8. Pembakaran sampah (Insinerasi)

    PVC dapat dengan aman di-insinerasi dan energi hasil pembakarannya digunakan lagi. Studi skala besar yang dilakukan oleh American Society of Mechanical Engineers (ASME) menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kandungan klorin dalam sampah dan jumlah emisi dioxin yang dihasilkan dalam proses pembakaran sampah tersebut secara terkontrol dalam insinerator.

    Studi tersebut menyebutkan bahwa banyak literature ilmiah yang secara jelas telah menyebutkan bahwa kondisi operasi pembakaran adalah factor terpenting yang menyebabkan terjadinya dioxin.

    9. Klorin

        PVC tidak menyebabkan pencemaran udara.karena gas klorin yang digunakan untuk membuat PVC terkunci rapat secara kimiawi dalam struktur bahan PVC. Juga ketika PVC didaur ulang, dimanfaatkan sebagai pengisi tanah (landfill), ataupun dibakar dalam incinerator modern, emisi gas klorin ke lingkungan tidak terjadi.

     

    Phthalate Dalam Produk Peralatan Medis

    Penggunaan phthalate dalam produk-produk peralatan medis telah merevolusi teknik penyimpanan dan pentransfusian darah kepada pasien:


    • Kantong darah yang terbuat dari PVC dengan phthalate (DEHP atau DOP) sebagai plasticizer (pelunak) telah menggantikan penggunaan botol-botol dari gelas semenjak tahun 1950-an.

    • Kantong darah PVC yang bersifat transparan, kuat, mudah disterilisasi, tahan goncangan dan tahan banting serta fleksibel hingga saat ini tetap menjadi pilihan utama untuk penyimpanan dan mendistribusian darah kepada pasien yang memerlukannya.

    • Kantong darah PVC mampu menggandakan masa simpan darah dari 21 hari jika menggunakan bahan lain menjadi 42 hari. Menggunakan kantong darah dari PVC, darah dapat disimpan lebih jauh lama, yang merupakan kontribusi ini sangat penting artinya dalam mengurangi tekanan terhadap banyaknya permintaan darah.

    Selang-selang dari PVC dan juga peralatan medis lain yang terbuat dari PVC yang mengandung DEHP (DOP) merupakan peralatan yang sangat penting dalam dunia medis, khususnya pada situasi-situasi yang kritis.


    • Selang PVC yang diplastisasi dengan DEHP (DOP) merupakan pilihan yang utama bagi pasien-pasien cuci darah maupun pasien penetima cairan intravenous, karena bahan ini kuat, transparan, tidak kempot serta akan kembali ke bentuk semula juka tertarik atau tertekan. Sifat-sifat diatas sangat penting untuk menjamin kelancaran aliran cairan-cairan medis tersebut dan kemudahan dalam memonitornya.

    • Hingga saat ini selang dan peralatan medis yang terbuat dari PVC merupakan perlengkapan yang digunakan untuk meng-oksigenisasi darah dari bayi-bayi yang dalam kondisi kritis ketika baru saja dilahirkan.

    Kualitas selang medis serta berbagai peralatan medis lainnya yang terbuat dari PVC yang di-plastisasi dengan phthalate telah lama diatur sesuai standar-standar kesehatan dan keamanan nasional dan internasional.


    • FDA meregulasi penggunaan produk-produk ini dan memberi catatan bahwa bahan ini telah digunakan bertahun-tahun dalam dunia medis “tanpa terbukti menyebabkan gangguan pada kesehatan”.

    • Akar dari wacana kekhawatiran terhadap efek paparan DEHP (DOP) adalah sebuah studi pada tikus-tikus, dimana ke dalam tubuh tikus-tikus tersebut dimasukkan DEHP (DOP) dalam dosis yang tinggi. Namun efek-efek yang terjadi pada tikus samasekali belum pernah terjadi pada manusia. Telah diketahui luas bahwa metabolisme tikus adalah sangat berbeda dengan metabolisme manusia yang menyebabkan seringkali tidak ada korelasi antara efek dikonsumsinya suatu zat terhadap tikus dan terhadap manusia.


    Fakta Seputar Bahan PVC

    Resin PVC

    1. Bahan baku yang diperlukan untuk pembuatan resin PVC adalah gas chlorine dan ethylene. Gas chlorine didapat dari garam dapur, dan ethylene dihasilkan dari minyak bumi. Porsi chlorine adalah 57% dari keseluruhan berat PVC, jadi PVC termasuk bahan plastik dengan ketergantungan yang rendah terhadap minyak bumi yang ketersediaannya kian hari kian menipis.

    2. Pembuatan PVC memerlukan sangat sedikit energi. Studi menunjukkan bahwa energi yang digunakan untuk memproduksi PVC jauh lebih kecil dibanding energi yang digunakan untuk memproduksi bahan-bahan jenis lain. Pembuatan PVC hanya memerlukan 40% dari energi yang diperlukan untuk memproduksi besi baja dan hanya 13% dari energi yang diperlukan untuk memproduksi aluminium. PVC juga menggunakan paling sedikit komponen minyak bumi dibanding bahan plastik yang lain.

    3. Bahan PVC juga memiliki kontribusi terhadap pelestarian hutan tropis. Jika kayu hutan tropis digunakan sebagai bahan baku pembuatan jendela dan pintu, maka hutan tropis harus dikelola dengan baik untuk menjamin kelestariannya. Jika tidak, yang akan terjadi adalah eksploitasi terus menerus yang mengakibatkan musnahnya hutan tropis. PVC adalah bahan yang populer digunakan untuk produk jendela rumah.

    4. Melalui teknologi bahan-bahan aditif, PVC dapan dibentuk menjadi produk-produk bermanfaat dengan variasi sifat yang sangat beragam: keras, lunak dan transparan; menghasilkan produk-produk yang begitu beragam, mulai dari pipa dengan berbagai ukuran dan spesifikasi kekuatan, peralatan medis, berbagai kemasan makanan maupun non-makanan, kulit imitasi, automotive parts, selang dan kabel, electronics parts, dan lain-lain.

    Plasticizer (Phthalates)

    1. Phthalates adalah sekelompok zat cair tak berbau yang digunakan sebagai plasticizer,       yaitu salah satu additive PVC untuk menghasilkan produk PVC yang bersifat lunak/             fleksibel seperti.kulit imitasi, sepatu, taplak meja transparan, dan lain-lain. Jenis                     plasticizer yang populer digunakan diantaranya DEHP/DOP, DINP, DIDP.

    2.   Selain digunakan dalam sebagian produk dari bahan PVC, phthalates juga digunakan dalam produk-produk lain seperti karet, cat, tinta cetak, adhesive, lubricant dan beberapa jenis kosmetika.

    3.  Tak ada satupun dari phthalates yang terbukti bersifat karsinogen (dapat menyebabkan penyakit kanker).

    4.    Rumor yang juga banyak beredar adalah bahwa phthalates dapat menyebabkan tumor. Sumber dari rumor ini adalah suatu penelitian dimana tikus-tikus diberi makanan yang mengandung DOP dalam jumlah beribu-kali lipat dari yang mungkin terkonsumsi dalam kehidupan sehari-hari seekor tikus. Akibat dari konsumsi DOP dalam jumlah yang luar biasa besar ini adalah timbulnya tumor pada hati tikus. Ketika dalam percobaan lain DOP diberikan kepada beberapa jenis monyet, ternyata tidak mengakibatkan kelainan apapun. Monyet dianggap memiliki metabolisme yang lebih menyerupai metabolisme manusia. Saat ini dunia ilmiah mengakui bahwa phthalates dapat menyebabkan tumor pada tikus melalui mekanisme metabolisme yang tidak terdapat pada tubuh manusia.

    5.   Rumor yang beredar juga menyebutkan bahwa phthalate dapat menyebabkan gangguan fungsi hormon, berkurangnya jumlah sperma pada pria dan gangguan reproduksi lainnya. Sumber dari rumor ini adalah suatu hipothesa bahwa ada zat-zat kimia yang dapat menyerupai fungsi hormon wanita (estrogen). Zat-zat inilah yang diduga menyebabkan banyak kasus berkurangnya jumlah sperma pada pria. Akan tetapi hingga hari ini hipothesa tersebut masih berupa hipothesa, tanpa dapat dibuktikan kebenarannya. Banyak studi telah dilakukan pada species tikus, dengan kesimpulan bahwa berbagai jenis phthalates tidak menyebabkan gangguan hormonal.

    6.  Penggunaan DEHP/DOP dalam produk peralatan medis telah menjadi sesuatu yang vital bagi industri kesehatan. PVC yang menggunakan plasticizer DEHP telah menjadi pilihan utama dalam banyak aplikasi medis, seperti selang infus, kantung darah dll, karena sifatnya yang transparan, ekonomis, kuat, fleksibel/lunak, mudah disterilisasi dan tidak mengerut. Di Eropa DEHP adalah satu-satunya plasticizer yang penggunaannya direkomendasikan oleh European Pharmacopoeia. Penggunaan DEHP/DOP secara aman selama puluhan tahun dalam dunia medis merupakan bukti keamanan penggunaan bahan ini sehingga seharusnya tak perlu dikhawatirkan lagi.

    7.   Phthalates tidak termasuk zat organic yang terakumulasi di lingkungan sekitar. Walaupun phthalates ditemukan tersebar di lingkungan sekitar, tapi jumlahnya amat sedikit karena molekul phthalates di alam terdegradasi oleh cahaya matahari dan juga secara biologis. Saat ini telah banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa phthalates tidak mendatangkan resiko kepada kesehatan manusia maupun kelestarian lingkungan hidup.

    8.   Dalam European Union Official Journal (April 2006), Uni Eropa mengumumkan bahwa dua jenis plasticizer yang paling banyak digunakan diisononyl phthalate (DINP) dan diisodecyl phthalate (DIDP) tidak tergolong sebagai zat berbahaya dan tak menimbulkan resiko pada manusia maupun alam sekitarnya.

    9.  Petisi yang dilakukan oleh beberapa kelompok Environ- mentalist di Amerika Serikat untuk melarang penggunaan PVC dalam produk mainan anak-anak ternyata ditolak oleh The United States Consumer Product Safety Commission (CPSC) (February 2003). CPSC menyatakan bahwa tak ada bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa penggunaan bahan PVC pada mainan anak-anak dapat menimbulkan resiko kesehatan.

    10. Tak ada bahan beracun yang layak dikonsumsi manusia. Segala jenis bahan yang terbukti beracun memang seharusnya dilarang. Sebaliknya, bahan yang bermanfaat yang tidak terbukti beracun selayaknya dapat terus digunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat, apalagi bahan tersebut telah digunakan selama puluhan tahun.

    Links

    1. World Chlorine Council (WCC) : http://www.worldchlorine.org

    2. Japanese Vinyl Environmental Council (VEC): http://www.vec.gr.jp

    3. The Vinyl Institute (VI) - USA: http://www.vinylinfo.org

    4. European Council of Vinyl Manufacturers (ECVM): http://www.ecvm.org

    5. Vinyl Council Australia (VCA): http://www.vinyl.org.au

    Plastik Pembungkus Makanan, Berbahayakah Untuk Kesehatan?

    Tulisan ini merupakan tanggapan atas artikel berjudul “Plastik Pembungkus Makanan Berbahaya Untuk Kesehatan” yang dimuat di harian Suara Merdeka pada tanggal 25 Juli 2007. Ada beberapa informasi yang dirasa kurang tepat dan berpotensi menimbulkan ketakutan secara berlebihan di masyarakat.

    Berikut ini informasi-informasi yang dapat ditambahkan berkenaan dengan status keamanan penggunaan bahan-bahan plastik bagi kesehatan.


    1. Bahan plastik sebenarnya bukanlah bahan yang berbahaya bagi kesehatan, jika digunakan sesuai dengan keterbatasan sifat bahan tersebut. Keterbatasan bahan ini utamanya adalah dalam hal ketahanannya terhadap suhu tinggi. Kebanyakan bahan plastik akan melunak jika terpapar suhu mendekati 100 derajat celcius, yakni suhu dimana air mendidih, dan itu akan mengakibatkan kekuatannya berkurang. Namun demikian ada jenis plastik yang memang tahan hingga suhu sekitar 100 derajat celcius, misalnya polistiren dan melamin.

    2. Monomer yang merupakan bahan baku utama dalam pembuatan plastik sering diberitakan sebagai zat yang dapat membahayakan kesehatan. Memang takkan pernah ada plastik kalau tidak ada zat monomer ini. Dan dalam produk akhir plastik memang masih ada kandungan monomernya, tetapi dalam jumlah yang teramat sangat kecil. Sementara factor ada atau tidaknya resiko tidak hanya bergantung pada bahaya atau tidaknya suatu bahan jika dikonsumsi, tetapi yang lebih penting adalah berapa banyak zat tersebut dikonsumsi. Hampir semua zat, bahkan yang kita konsumsi sehari-hari dan yang tidak dikonotasikan sebagai zat berbahaya, pada dasarnya adalah zat yang berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah besar, misalnya garam dan gula. Sebenarnya batas maksimum kandungan monomer dalam berbagai jenis plastik yang umum digunakan sehari-hari sudah diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI). Batas maksimum kandungan monomer ini sebenarnya sudah menjamin keamanan bahan-bahan plastik dalam penggunaan sehari-hari. Amat sangat disayangkan bahwa artikel-artikel yang memberitakan tentang bahaya penggunaan bahan plastik sebenarnya justru mementahkan kembali aturan SNI yang sudah susah payah dirumuskan berdasarkan berbagai studi dan data-data ilmiah dan juga sudah didasarkan pada peraturan serupa di berbagai negara lain termasuk juga di negara-negara maju.

    3. Dalam artikel tersebut diatas juga disebutkan bahwa “Polivinyl chloride dan vinylidene chloride resin merupakan dioksin, yaitu senyawa kimia yang digolongkan sebagai penyebab utama kanker karena sifatnya yang sangat beracun”. Penyebutan polyvinyl chloride sebagai dioksin adalah sesuatu yang sangat salah. Dioksin yang dikenal di dunia ilmiah adalah sekumpulan zat (mungkin jumlahnya ada sekitar 40 zat atau lebih) yang bersifat sangat stabil atau sulit diolah, sehingga keberadaannya semakin lama semakin menumpuk (terakumulasi) di lingkungan sekitar kita. Berbagai studi ilmiah juga sudah membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara polyvinyl chloride dengan dihasilkannya dioksin di lingkungan, karena dioksin pada dasarnya dihasilkan dimana-mana melalui proses-proses yang biasa terjadi di sekitar kita, terutama pembakaran sampah, pembukaan lahan dan kebakaran hutan. Berbagai studi juga menyimpulkan bahwa sampah yang dibakar, baik dia mengandung polyvinyl chloride ataupun tidak, akan menghasilkan dioksin dalam jumlah yang sama saja. Jadi ada tidaknya polyvinyl chloride dalam sampah tidak mempengaruhi ada tidaknya dioksin dalam hasil pembakaran itu. Mengapa demikian? Karena polivinyl chloride bukanlah satu-satunya bahan yang mengandung atom klor disekitar kita. Bahkan terlalu banyak bahan-bahan disekitar kita yang mengandung atom klor, misalnya garam dapur (sehingga semua sampah makanan mengandung atom klor), kayu, daun, rumput, dan lain-lain, yang kalau dibakar, semuanya berpotensi menghasilkan dioxin. Dan sebenarnya dioksin memang ada dimana-mana, hampir semua tubuh manusia di dunia ini pun sudah mengandung kadar dioksin. Ini dikarenakan begitu banyaknya sumber dioksin disekitar kita. Jadi kalau hanya polivinyl chloride yang dipersalahkan sebagai sumber dioksin, itu adalah sangat tidak tepat.

    Demikian sedikit informasi yang bisa ditambahkan berkenaan dengan artikel yang dimuat di harian ini beberapa waktu yang lalu.

    Hormat saya,
    Dr.Indratmoko Hari Poerwanto
    Asia Pacific Vinyl Network (APVN – Indonesia)
    E-mail: indratmoko@asc.co.id